Pelatih Timnas Indonesia, Shin Tae-yong, mengakui bahwa kekalahan ini bukan hanya disebabkan oleh kekuatan lawan, tetapi juga karena beberapa faktor internal yang mempengaruhi performa anak asuhnya di lapangan. Salah satu faktor utama adalah kurangnya kekompakan tim akibat persiapan yang terbatas. “Sebagian besar pemain baru bergabung dengan skuad hanya tiga hingga empat hari sebelum pertandingan, sehingga koordinasi antar pemain belum maksimal. Hal ini membuat kami kesulitan menerapkan strategi di lapangan,” ujar Shin Tae-yong dalam konferensi pers usai pertandingan.
Penyebab Kekalahan Telak Indonesia dari Australia
Waktu Persiapan yang Terlalu Singkat
Shin Tae-yong menyoroti bahwa waktu persiapan yang sangat singkat menjadi salah satu penyebab utama kekalahan ini. Beberapa pemain kunci baru bergabung dengan tim hanya tiga hingga empat hari sebelum pertandingan, sehingga mereka belum memiliki waktu yang cukup untuk membangun kekompakan dan memahami strategi permainan dengan baik. Kondisi ini berdampak pada performa di lapangan, di mana sering terjadi kebingungan di antara para pemain dalam menjalankan taktik yang diinstruksikan.
Pertahanan yang Rawan dan Tekanan Tinggi yang Berisiko
Timnas Indonesia memilih untuk bermain dengan strategi high pressing atau tekanan tinggi dalam menghadapi Australia. Namun, taktik ini justru menjadi bumerang, karena pemain Indonesia sering kali terjebak dalam posisi yang terlalu maju, meninggalkan celah besar di lini pertahanan. Hal ini dimanfaatkan oleh Australia, yang dengan mudah mengeksploitasi ruang kosong tersebut. Pemain bertahan Indonesia juga terlihat kurang sigap dalam mengantisipasi serangan bola-bola set piece dan crossing lawan.
Gagal Memanfaatkan Peluang Emas
Timnas Indonesia sebenarnya memiliki peluang emas di awal babak pertama untuk membuka keunggulan. Pada menit kelima, Jay Idzes nyaris mencetak gol melalui sundulan, namun kiper Australia, Matthew Ryan, berhasil menepis bola. Peluang besar lainnya datang melalui tendangan penalti di menit kedelapan setelah Rafael Struick dijatuhkan di kotak penalti. Sayangnya, Kevin Diks yang menjadi eksekutor gagal memanfaatkan peluang tersebut, tendangannya hanya mengenai tiang gawang. Gagalnya peluang ini memberikan momentum kepada Australia untuk mendominasi permainan.
Australia Kuasai Permainan, Indonesia Kewalahan
Setelah gagal memanfaatkan peluang emas, Indonesia semakin kewalahan menghadapi gempuran serangan dari Australia. Pada menit ke-18, Australia unggul melalui penalti yang dieksekusi oleh Martin Boyle. Dua menit kemudian, Nishan Velupillay menambah keunggulan tuan rumah menjadi 2-0. Kondisi semakin sulit bagi Indonesia ketika Jackson Irvine mencetak gol ketiga pada menit ke-34, membuat skor menjadi 3-0 hingga turun minum.
Memasuki babak kedua, Timnas Indonesia sempat memberikan perlawanan dengan gol yang dicetak oleh Ole Romeny pada menit ke-78, memperkecil ketertinggalan menjadi 3-1. Namun, Australia tetap mendominasi permainan dan berhasil menambah dua gol lagi melalui Jackson Irvine pada menit ke-90, menutup pertandingan dengan skor telak 5-1.
Pembelajaran Penting untuk Laga Berikutnya
Kekalahan ini menjadi pelajaran penting bagi Timnas Indonesia yang akan menghadapi Bahrain pada pertandingan berikutnya di Kualifikasi Piala Dunia 2026. Shin Tae-yong menegaskan bahwa tim harus belajar dari kesalahan ini dan berusaha memperbaiki koordinasi serta meningkatkan soliditas pertahanan. “Kami harus segera bangkit dan memperbaiki apa yang kurang. Pertandingan melawan Bahrain di Stadion Utama Gelora Bung Karno nanti akan menjadi kesempatan bagi kami untuk membuktikan diri,” tambah Shin Tae-yong.
Pertandingan melawan Bahrain, yang akan digelar pada Selasa (25/3), menjadi momen penting bagi Indonesia untuk menjaga peluang lolos ke Piala Dunia 2026. Diharapkan dengan waktu persiapan yang lebih baik dan evaluasi menyeluruh, Timnas Indonesia bisa tampil lebih solid dan memanfaatkan setiap peluang yang ada di pertandingan berikutnya.