"Pada tanggal 18 Maret ini, flight telah mendarat tadi, membawa 200 orang WNI yang menjadi korban. Kemudian, nanti jam 11, flight kedua juga membawa 200 WNI yang menjadi korban," ungkap Budi Gunawan dalam konferensi pers di Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten.
Setelah menjalani pemeriksaan kesehatan dan proses National Referral Mechanism, para WNI ini menempuh perjalanan darat selama sembilan jam menuju Bandara Don Mueang, Bangkok, sebelum diterbangkan ke Indonesia menggunakan pesawat carter. Dari total korban yang dipulangkan, 313 adalah laki-laki dan 87 perempuan, termasuk lima perempuan hamil. Para korban berasal dari 21 provinsi di Indonesia, dengan jumlah terbanyak dari Sumatera Utara, Bangka Belitung, Jawa Barat, Jakarta, dan Sulawesi Utara.
Setibanya di Bandara Soekarno-Hatta, WNI ini disambut hangat oleh para menteri, termasuk Menteri Luar Negeri Sugiono, Menteri KP2MI Abdu Kadir Karding, dan Wakil Menteri Dalam Negeri Bima Arya. Mereka bersalaman satu per satu dengan WNI yang telah lama menanti kepulangan ke Tanah Air.
Pemulangan ini tidak lepas dari arahan langsung Presiden Prabowo Subianto, yang sangat memperhatikan nasib pekerja migran Indonesia di luar negeri. Budi Gunawan menjelaskan bahwa operasi ini dilakukan secara senyap untuk memastikan keselamatan WNI yang menjadi korban penyiksaan, termasuk disetrum, oleh pelaku scam.
"Operasi secara senyap ini kita lakukan semuanya atas perintah dan arahan Bapak Presiden, Bapak Prabowo Subianto," ujar Budi.
Pada 19 Maret, sisa 154 WNI lainnya juga akan dipulangkan dari Thailand, melengkapi total 554 WNI yang berhasil diselamatkan.
Menteri Luar Negeri Sugiono juga mengingatkan masyarakat Indonesia untuk berhati-hati dan selalu menggunakan jalur resmi saat bekerja di luar negeri. Menurutnya, salah satu penyebab kesulitan evakuasi adalah banyaknya WNI yang berangkat secara ilegal ke Myanmar, yang sedang mengalami konflik internal.
"Butuh waktu yang cukup lama untuk bisa berhasil melakukan evakuasi," jelas Sugiono.